Widget Iklan Affiliate (6 Produk)
Sosial Budaya

Harmoni Tradisi Dan Syukur, Gemuruh Sedekah Laut Di Pesisir Pantai

nuun.std
×

Harmoni Tradisi Dan Syukur, Gemuruh Sedekah Laut Di Pesisir Pantai

Sebarkan artikel ini
Harmoni Tradisi Dan Syukur, Gemuruh Sedekah Laut Di Pesisir Pantai
Dok. Pemkab Gunungkidul

KIDUL.ID – GUNUNGKIDUL — Di bawah terik matahari pesisir selatan, ribuan pasang mata tertuju pada gulungan ombak Samudra Hindia yang menjadi saksi bisu kembalinya sebuah tradisi agung. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng kembali menggelar upacara adat Sedekah Laut atau Petik Laut sebagai manifestasi syukur kolektif masyarakat nelayan terhadap melimpahnya berkah laut pada Selasa (7/7/2026).

Acara ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan warisan budaya leluhur yang mengandung makna spiritual mendalam. Ketua Panitia Penyelenggara, Agus Sujoko, menegaskan bahwa dalam tradisi ini tersimpan rasa terima kasih yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang terus mengalir bagi para nelayan.

Widget Iklan Affiliate (4 Produk)

Senada dengan hal tersebut, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, dalam sambutannya menekankan bahwa ritual ini adalah perwujudan nyata dari filosofi Memayu Hayuning Bawono—sebuah upaya manusia untuk menjaga keselarasan hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

“Budaya ini menegaskan bahwa kita adalah bangsa yang memiliki jati diri yang kuat,” tegas Bupati Endah.

Rangkaian Acara Tradisi dan Pilar Gotong Royong

Kemeriahan Sedekah Laut tahun ini dirancang melalui prosesi panjang. Rangkaian acara dimulai dengan berbagai kegiatan sosial dan olahraga untuk mempererat persaudaraan antarwarga, seperti Turnamen Bola Voli Sadeng Cup III.

“Kami juga menggelar pengajian akbar sebagai pengingat untuk terus meningkatkan iman dan ketakwaan, serta lomba penjor dan panggung seni yang menampilkan nilai-nilai budaya lokal,” ungkap Agus.

Puncak acara ditandai dengan prosesi Kirab Budaya, pertunjukan tari Tayub, dan ritual yang paling dinantikan, yaitu Larung Sesaji ke tengah samudra. Sebagai penutup yang khidmat, pagelaran Ringgit Wacucal (Wayang Kulit) diadakan pada malam harinya sebagai bentuk pelestarian seni Jawa yang adiluhung.

Keberhasilan acara besar ini berdiri di atas pilar gotong royong yang kuat. Agus Sujoko memaparkan bahwa total kebutuhan dana untuk penyelenggaraan mencapai kurang lebih Rp276 juta. Dana tersebut berhasil dihimpun dari iuran swadaya para nelayan, sumbangan pengusaha, pedagang, sponsor, serta dukungan stimulan dari Dana Keistimewaan (Danais) DIY.

Dukungan Infrastruktur dan Pemberdayaan Nelayan

Pemerintah Daerah DIY memberikan perhatian khusus bagi kemajuan kawasan ekonomi Sadeng. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Heri Sulistiyo Hermawan, menyampaikan komitmennya untuk mengoptimalkan manfaat pelabuhan bagi kesejahteraan masyarakat pesisir.

Salah satu langkah nyata yang dieksekusi tahun ini adalah pelaksanaan proyek pengerukan dan pendalaman alur pelabuhan. Langkah teknis ini diambil agar lalu lintas kapal nelayan dapat berjalan lebih profesional, aman, dan lancar tanpa terkendala pendangkalan. Selain infrastruktur fisik, pemerintah juga berfokus pada pemberdayaan dan peningkatan kapasitas kelembagaan nelayan di lapangan.

Dalam suasana penuh khidmat, Bupati Gunungkidul sempat mengutip pesan proklamator Bung Karno tentang karakteristik bangsa yang tahan uji dan ulet. Pesan ini ditujukan khusus bagi para nelayan lokal yang tergabung dalam kelompok Mino Rejo, yang setiap harinya harus bertaruh nyawa menghadapi tantangan besar di tengah samudra.

“Semoga dengan upacara Petik Laut ini, Gusti Yang Maha Agung senantiasa memberikan perlindungan, menjaga keselamatan para nelayan saat di laut, serta memberikan hasil panen ikan yang melimpah,” doa Bupati Endah di hadapan para tamu undangan.


Catatan Redaksi: Pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan tulisan dapat mengirimkan sanggahan atau koreksi (sesuai Pasal 1 ayat 11 & 12 UU Pers No. 40/1999) melalui email: [email protected].

Text Ads Widget