GUNUNGKIDUL, KIDUL.ID — Alunan gamelan berpadu dengan dentuman drum dan petikan gitar bass mengiringi pembukaan Festival Nasional Campursari Gunungkidul 2026 di Alun-Alun Wonosari, Senin (28/9/2026) malam.
Ribuan penonton memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan gelaran yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga menjadi penghormatan terhadap maestro campursari asal Gunungkidul, Manthous.
Festival tahun ini mengusung tema “Tribute to Manthous: Mengenang dan Meneruskan Semangat Kreativitas Sang Maestro”. Sosok Manthous dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan campursari. Lahir pada 10 April 1950, Manthous mencapai puncak kiprahnya melalui perpaduan unsur musik tradisional Jawa dengan instrumen modern.
Pada 1993, Manthous mendirikan Grup Campursari Maju Lancar Gunungkidul (CSGK). Dari grup tersebut, sejumlah karya dan tembang campursari yang dibawakannya dikenal luas, di antaranya Anting-anting, Nyidamsari, Gandrung, dan Kutut Manggung. Lagu Gethuk juga menjadi salah satu karya yang lekat dengan nama Manthous dan campursari.
Festival Nasional Campursari Gunungkidul 2026 berlangsung selama tiga hari, 28–30 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul sekaligus menjadi ruang bagi para seniman untuk menampilkan dan melestarikan musik campursari.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Agung Danarto, melaporkan festival tersebut diikuti delegasi dari berbagai daerah. Peserta berasal dari Gunungkidul, Bantul, Sleman, Yogyakarta, hingga sejumlah daerah di luar provinsi, seperti Jakarta, Magelang, Pacitan, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri.
Panggung festival juga dimeriahkan sejumlah penyanyi dan seniman campursari, di antaranya Anik Sunyahni, Minul, Lasmini, serta generasi muda seperti Niken Salindry dan Dimas Tejo.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Ia mengutip risalah Bung Karno tahun 1933 yang menyebut bahwa perjuangan bangsa tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan hidup, tetapi juga perlu memenuhi kebutuhan seni dan kebudayaan.
“Seni campursari yang telah dipelopori oleh almarhum Mas Manthous adalah bukti sejarah bahwa seniman Gunungkidul mampu melahirkan karya adiluhung yang menjadi idaman masyarakat Indonesia,” ujar Bupati sebelum secara simbolis memukul gong sebagai tanda dibukanya festival.
Kehadiran keluarga besar almarhum Manthous turut memberikan nuansa haru dalam pembukaan festival. Manthous meninggal dunia pada 9 Maret 2012 setelah sebelumnya lama berkiprah dalam musik campursari.
Lebih dari satu dekade setelah kepergiannya, karya dan pengaruh Manthous masih menjadi bagian penting dalam perjalanan campursari di Gunungkidul. Melalui festival tersebut, semangat kreativitas sang maestro kembali dihidupkan sekaligus diteruskan kepada generasi baru tanpa meninggalkan akar tradisi.











