Widget Iklan Affiliate (6 Produk)
Pertanian

Tembus 900 Ribu Ton, Gunungkidul Sambut Panen Raya Ubi Kayu Musim Kemarau 2026

nuun.std
×

Tembus 900 Ribu Ton, Gunungkidul Sambut Panen Raya Ubi Kayu Musim Kemarau 2026

Sebarkan artikel ini
Tembus 900 Ribu Ton, Gunungkidul Sambut Panen Raya Ubi Kayu Musim Kemarau
Dokumentasi Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Gunungkidul

KIDUL.ID – GUNUNGKIDUL — Memasuki musim kemarau pertengahan tahun, para petani di Kabupaten Gunungkidul mulai menggelar panen raya ubi kayu (singkong). Komoditas unggulan daerah yang ditanam secara tumpangsari bersama padi dan jagung sejak awal musim penghujan Oktober 2025 lalu kini siap dipetik hasilnya.

Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, Danang Sutopo, S.Hut.T., mengungkapkan bahwa total luas tanam ubi kayu periode 2025/2026 mencapai sekitar 42.000 hektare yang tersebar di 18 kapanewon. Untuk tahun 2026, DPP memproyeksikan target produksi ubi kayu basah di seluruh Gunungkidul mampu menyentuh angka 900.000 ton.

Widget Iklan Affiliate (4 Produk)

Meskipun laporan resmi luas panen bulan Juli masih dalam tahap konsolidasi, beberapa wilayah khususnya di zona selatan seperti Kapanewon Saptosari, Girisubo, dan Tepus dilaporkan telah mendahului panen raya sejak akhir Juli ini.

Capaian Panen dan Tingkat Produktivitas Wilayah

Berdasarkan data lapangan yang dirangkum dari para Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL):

  • Kapanewon Saptosari: Koordinator PPL Saptosari, Wulan Utami, S.P., melaporkan luas panen pada Juli ini telah mencapai 2.706 hektare atau sekitar 60 persen dari total lahan pertanaman seluas 4.510 hektare.
  • Kapanewon Tepus: Koordinator PPL Tepus, Edi Januari, S.P., mencatat realisasi panen telah menyentuh 1.790 hektare (60 persen) dari total luas tanam 2.983 hektare, dengan tingkat produktivitas tinggi mencapai 32 ton ubi kayu basah per hektare.
  • Kapanewon Girisubo: PPL Girisubo, Sulardi, melaporkan sekitar 40 persen lahan dari total 2.834 hektare telah dipanen dengan rata-rata produktivitas setara dengan Tepus, yakni 32 ton ubi kayu basah per hektare.
  • Kapanewon Semin: Tercatat memanen 309 hektare pada laporan Juni dengan produktivitas rata-rata 22 ton per hektare.

Perbedaan angka produktivitas antarwilayah tersebut dipengaruhi oleh variasi teknis budidaya di tingkat petani, utamanya pengaturan jarak tanam. Semakin rapat populasi tanaman per hektare, volume panen basah yang dihasilkan cenderung makin tinggi.

Harga Stabil dan Rencana Hilirisasi MOCAF 2027

Sektor pascapanen ubi kayu tahun 2026 ini berjalan sangat kondusif tanpa kendala distribusi. Para pedagang pengumpul di tingkat desa maupun pasar kapanewon siap menampung seluruh hasil panen warga. Harga ubi kayu basah di tingkat petani berada pada kisaran Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram, sementara harga olahan gaplek berkisar antara Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram. Petani di zona selatan seperti Girisubo mayoritas memilih mengolah ubi kayu menjadi gaplek sebelum dijual untuk meraih nilai tambah.

Merespons potensi panen yang melimpah ini, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Rismiyadi, S.P., M.Si., menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus menggenjot nilai ekonomi ubi kayu.

“Pada tahun 2027 mendatang, pemerintah akan mengakselerasi program hilirisasi ubi kayu di Gunungkidul, seperti pengembangan tepung MOCAF (Modified Cassava Flour) serta ragam produk turunan industri pangan lainnya. Langkah ini krusial untuk memberikan nilai tambah yang lebih tinggi sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani dapat melompat signifikan,” tegas Rismiyadi.


Catatan Redaksi: Pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan tulisan dapat mengirimkan sanggahan atau koreksi (sesuai Pasal 1 ayat 11 & 12 UU Pers No. 40/1999) melalui email: [email protected].

Text Ads Widget