KIDUL.ID – Gelombang kritik tajam kembali menghentam Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyusul serangkaian keputusan kontroversial sepanjang gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Puncak dari tensi panas ini ditandai dengan desakan keras dari Presiden La Liga, Javier Tebas, yang meminta Infantino untuk segera meletakkan jabatannya karena dinilai telah memicu kerusakan pada industri sepak bola global.
Kepemimpinan Infantino—yang menjabat sejak Februari 2016—terus memicu perdebatan. Salah satu sorotan tajam mengarah pada intervensinya dalam pembatalan sanksi larangan bertanding penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Kartu merah yang diterima Balogun saat laga kontra Bosnia dan Herzegovina secara kontroversial dianulir, memungkinkannya tampil melawan Belgia di babak 16 besar.
Keputusan tersebut disinyalir kental dengan nuansa politis setelah Presiden AS, Donald Trump, mengakui secara terbuka telah melakukan kontak telepon khusus dengan Infantino jelang pencabutan sanksi tersebut.
UEFA Boikot Final, Hubungan dengan FIFA Capai Titik Terendah
Skandal ini memicu amarah Badan Pengatur Sepak Bola Eropa (UEFA). Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, memilih untuk memboikot laga final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes keras atas tindakan FIFA yang dinilai melanggar batas regulasi serta mengeluarkan kebijakan yang “tidak dapat dipahami dan tidak dapat dibenarkan”.
Hubungan diplomatik kedua organisasi sepak bola terbesar di dunia tersebut berada di titik terendah. UEFA mengecam keras cara FIFA mengelola berbagai dinamika selama turnamen, termasuk perlakuan diskriminatif terhadap Timnas Iran hingga insiden penolakan masuknya wasit asal Somalia, Omar Artan, ke wilayah Amerika Serikat.
Javier Tebas: “Jeda Minum Hanya Kebohongan Iklan”
Dalam wawancara eksklusif bersama media Italia, La Gazzetta dello Sport, Presiden La Liga Javier Tebas tanpa ragu menyebut sistem di tubuh FIFA saat ini sudah “busuk dari akarnya”. Ia menilai Infantino menjalankan roda organisasi murni demi kepentingan internal FIFA dan komersialisasi semata.
Tebas secara spesifik membongkar kejanggalan kebijakan baru berupa cooling break atau jeda minum yang diterapkan secara kaku sepanjang Piala Dunia 2026.
“Penerapan jeda minum itu bohong. Di La Liga, kami hanya menerapkannya saat cuaca benar-benar panas ekstrem. Sementara di stadion seperti Dallas, Los Angeles, atau Atlanta, lokasinya berpendingin udara (AC) dan sangat dingin hingga saya harus mengenakan jaket di tribun. Itu bukan jeda minum untuk kesehatan pemain, melainkan jeda untuk slot iklan televisi,” cetus Tebas.
Meski diterpa desakan mundur dari berbagai pihak, posisi Infantino diprediksi masih relatif aman hingga akhir masa jabatannya pada 2027 mendatang. Ketiadaan figur oposisi yang berani maju dalam Kongres FIFA dinilai Tebas menjadi alasan utama Infantino masih melenggang mulus di kursi tertinggi sepak bola dunia.











