Widget Iklan Affiliate (6 Produk)
Artikel PilihanWarta Kidul

Malam Tirakatan Hari Jadi ke-196 Gunungkidul, Refleksi Sejarah dan Penguatan Gotong Royong

nuun.std
×

Malam Tirakatan Hari Jadi ke-196 Gunungkidul, Refleksi Sejarah dan Penguatan Gotong Royong

Sebarkan artikel ini
Malam Tirakatan Hari Jadi ke 196 Gunungkidul, Refleksi Sejarah dan Penguatan Gotong Royong
Dokumentasi Pemkab Gunungkidul

GUNUNGKIDUL, KIDUL.ID – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar Malam Tirakatan Peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul di Bangsal Sewoko Projo, Wonosari, Sabtu malam (3/10/2026).

Malam tirakatan berlangsung dalam suasana khidmat. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi rangkaian seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi sejarah, memanjatkan doa bersama, serta memperkuat kepedulian sosial dan semangat gotong royong masyarakat.

Widget Iklan Affiliate (4 Produk)

Salah satu rangkaian utama adalah doa bersama yang melibatkan tokoh agama dari lima agama, yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul.

Doa bersama tersebut menjadi wujud syukur atas perjalanan panjang Kabupaten Gunungkidul sekaligus harapan agar masyarakat dan para pemimpin daerah senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, keselamatan, dan kesejahteraan.

Peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul tahun 2026 mengusung tema “Gayeng Guyub, Waras Ragane-Tentrem Atine.” Petunjuk resmi peringatan juga mengamanatkan pelaksanaan Malam Tirakatan pada 3 Oktober 2026 di tingkat kapanewon dan kalurahan, disertai pembacaan sejarah singkat Kabupaten Gunungkidul.

Makna Tema Hari Jadi ke-196

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Gunungkidul MH. Arkham Marsudi yang juga selaku Ketua Panitia Penyelenggara menjelaskan makna tema peringatan tahun ini.

Menurutnya, “Gayeng Guyub” menggambarkan semangat kebersamaan, saling merangkul, saling menguatkan, dan tumbuh bersama dalam suasana kekeluargaan.

Sementara itu, “Waras Ragane” dimaknai sebagai perwujudan kesehatan dan daya hidup masyarakat sebagai modal untuk berkarya dan membangun daerah. Adapun “Tentrem Atine” menggambarkan kedamaian sosial, ketenangan batin, serta pikiran yang jernih dalam menjalani kehidupan.

Tema tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang sehat, guyub, dan memiliki kehidupan sosial yang harmonis.

Merefleksikan Sejarah Terbentuknya Gunungkidul

Refleksi sejarah menjadi bagian penting dalam Malam Tirakatan. Dalam pembacaan riwayat Kabupaten Gunungkidul, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Gunungkidul Agung Danarto menyampaikan sejarah pembentukan Gunungkidul berdasarkan kajian historiografi yang menjadi dasar penetapan Hari Jadi.

“Berdasarkan kajian historiografi terbaru, Kabupaten Gunungkidul secara resmi terbentuk pada Senin Legi, 16 Rabiul Akhir 1758 Jawa atau 4 Oktober 1830 Masehi, yang kini ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 1 Tahun 2024.”

Dokumen informasi pembangunan Pemkab Gunungkidul juga menjelaskan bahwa kajian administratif yang dilakukan pada 2021–2023 menemukan bahwa 4 Oktober 1830 menjadi titik tolak terbentuknya Kabupaten Gunungkidul secara administratif. Kajian tersebut kemudian menjadi dasar penetapan melalui Perda Kabupaten Gunungkidul Nomor 1 Tahun 2024.

Sebelumnya, Hari Jadi Gunungkidul diperingati pada 27 Mei. Namun, berdasarkan kajian sejarah dan dokumen terkait penyerahan wilayah, pemerintah daerah menetapkan titik tolak administratif Gunungkidul pada 4 Oktober 1830.

Perubahan tersebut berkaitan dengan dinamika politik dan administratif setelah Perang Jawa (1825–1830), termasuk Perjanjian Klaten dan pembagian wilayah antara Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Dalam sejarah pemerintahan Gunungkidul, Mas Tumenggung Pontjodirjo juga tercatat sebagai bupati pertama. Dokumen Pemkab Gunungkidul mencatat masa pemerintahannya dimulai pada 1831.

Menjaga Memori Kolektif Para Pemimpin Daerah

Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga menyerahkan Buku Akuisisi Arsip Tokoh Bupati Gunungkidul kepada ahli waris sejumlah tokoh daerah.

Penyerahan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga memori kolektif sekaligus mendokumentasikan perjalanan kepemimpinan Kabupaten Gunungkidul.

Dalam kegiatan tersebut, buku diserahkan untuk mengenang kepemimpinan almarhum Prof. Dr. Ir. Sumpeno Putro, M.Sc. dan Dr. Drs. H. Imawan Wahyudi, M.H. sesuai data dan keterangan panitia.

Dokumentasi sejarah tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya agar perjalanan pembangunan Gunungkidul tidak terlepas dari kontribusi para pendahulu.

Hari Jadi Diwarnai Aksi Sosial dan Bantuan Air Bersih

Peringatan Hari Jadi ke-196 juga diarahkan pada kegiatan sosial, terutama di tengah kondisi sebagian wilayah Gunungkidul yang menghadapi persoalan ketersediaan air bersih pada musim kemarau.

Pemkab Gunungkidul menggandeng berbagai pihak untuk mendukung penyaluran bantuan air bersih kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut melibatkan unsur dunia usaha, perbankan, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, alumni, dan berbagai elemen lainnya.

Rangkaian kegiatan Hari Jadi juga telah dimulai sejak 22 September 2026 dengan berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Di antaranya layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi penyandang disabilitas melalui kerja sama dengan Bapel Jamkesos dan Dinas Kesehatan Provinsi DIY.

Rangkaian kegiatan lainnya meliputi Pengajian Akbar, Gunungkidul Tourism Fest, pentas campursari, bazar UMKM, senam kreasi Perwosi, Kenduri Ageng, serta pasar murah.

Di bidang pelestarian seni dan budaya, dilaksanakan Gaung Gamelan atau Gongso Agung yang melibatkan kelompok-kelompok kesenian. Petunjuk resmi Hari Jadi ke-196 menyebut Gaung Gamelan dilaksanakan bersamaan dengan Malam Tirakatan, dengan gendhing yang ditetapkan antara lain Ladrang Mugi Rahayu, Ladrang Wilujeng, dan Ladrang Dirgahayu.

Upacara Hari Jadi Dijadwalkan 14 Oktober

Dalam rangkaian peringatan tersebut, panitia juga menyampaikan adanya perubahan jadwal Upacara Peringatan Hari Jadi yang semula direncanakan pada 4 Oktober 2026.

Upacara tersebut dijadwalkan ulang menjadi 14 Oktober 2026. Penyesuaian jadwal dilakukan berkaitan dengan agenda Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X sehingga diharapkan dapat hadir dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Gunungkidul.

Dengan perubahan tersebut, Malam Tirakatan tetap dilaksanakan pada 3 Oktober, sementara upacara peringatan menjadi salah satu agenda lanjutan dalam rangkaian Hari Jadi ke-196.

Bupati Ajak Masyarakat Tidak Melupakan Sejarah

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyampaikan bahwa Malam Tirakatan menjadi momentum untuk melakukan perenungan dan kontemplasi atas perjalanan Kabupaten Gunungkidul sejak 1830 hingga 2026.

Ia juga mengajak seluruh jajaran pemerintahan dan masyarakat untuk mengambil pelajaran dari perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan fondasi pembangunan daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengajak masyarakat menyerap semangat kemandirian yang pernah disampaikan Proklamator Soekarno, termasuk prinsip berdikari serta pesan “Jas Merah” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Menurutnya, semangat kemandirian daerah perlu dibangun melalui persatuan, kepercayaan terhadap potensi daerah, serta keharmonisan antara pemerintah dan masyarakat.

Pemotongan Tumpeng dan Gaung Gamelan

Rangkaian Malam Tirakatan kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Gunungkidul. Prosesi tersebut didampingi Ketua DPRD, unsur Forkopimda, termasuk Komandan Kodim 0730/Gunungkidul, Sekretaris Daerah, serta sejumlah pejabat terkait.

Tumpeng kemudian diserahkan secara simbolis kepada Ketua Umum Panitia Hari Jadi sebagai bagian dari rangkaian syukuran.

Acara ditutup dengan prosesi pemukulan golong oleh Bupati Gunungkidul bersama Kepala Dinas Kebudayaan. Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya penabuhan gamelan secara serentak di berbagai wilayah Gunungkidul.

Gaung Gamelan dibuka dengan alunan Ladrang Kijing Miring, menandai dimulainya rangkaian pelestarian seni tradisional dalam peringatan Hari Jadi ke-196.

Malam Tirakatan tersebut menjadi perpaduan antara doa, refleksi sejarah, kepedulian sosial, dan pelestarian budaya. Semangat “Gayeng Guyub, Waras Ragane-Tentrem Atine” diharapkan tidak berhenti sebagai tema peringatan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan Kabupaten Gunungkidul.

Selain rangkaian tersebut, panitia juga menyiapkan kegiatan penggalangan dana bertajuk Konser Amal “Ngamen Bupati” pada 10 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dijadwalkan diiringi Orkes Melayu Lorensa, dengan hasil donasi yang diarahkan untuk membantu penanganan dan pemenuhan kebutuhan air bersih di Gunungkidul.


Catatan Redaksi: Pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan tulisan dapat mengirimkan sanggahan atau koreksi (sesuai Pasal 1 ayat 11 & 12 UU Pers No. 40/1999) melalui email: [email protected].

Text Ads Widget