KIDUL.ID – GUNUNGKIDUL — Puluhan wisatawan dilaporkan menjadi korban serangan ubur-ubur beracun atau yang kerap disebut impes di kawasan pantai selatan Gunungkidul. Kasus terbaru terjadi di Pantai Sepanjang, Kapanewon Tanjungsari, di mana sebagian besar korban didominasi oleh anak-anak.
Sekretaris SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Pantai Baron, Surisdiyanto, mengonfirmasi adanya laporan tersebut. Pada Rabu (1/7/2026), tercatat ada 10 wisatawan di Pantai Sepanjang yang harus mendapatkan penanganan medis akibat sengatan biota laut ini.
Menurut Surisdiyanto, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena tertarik dengan visual ubur-ubur impes yang unik. Biota ini memiliki bentuk menggelembung menyerupai balon dengan warna putih transparan berpadu biru cerah.
“Sebagian besar yang tersengat ubur-ubur masih anak-anak, karena mereka tertarik dengan bentuk ubur-ubur lalu dibuat mainan,” ujar Surisdiyanto saat dihubungi wartawan.
Beruntung, seluruh korban yang tersengat pada hari itu langsung mendapatkan penanganan cepat dari Tim SAR di lokasi. Sebelum insiden di Pantai Sepanjang, Tim SAR juga mencatat ada delapan wisatawan dari berbagai pantai di Gunungkidul yang mengalami nasib serupa pada Minggu (28/6/2026).
Puncak Siklus Juli–Agustus
Kemunculan impes di pesisir selatan Gunungkidul ini sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya. Koordinator SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Pantai Baron, Marjono, sempat menjelaskan bahwa pertengahan tahun memang menjadi musim bagi biota beracun ini untuk naik ke permukaan pantai.
Kemunculan awal di musim ini sudah terdeteksi sejak pertengahan Juni, tepatnya pada Minggu (14/6/2026), ketika lima wisatawan di Pantai Sepanjang menjadi korban pertama.
“Memang sudah musimnya impes keluar, biasanya pertengahan bulan Juni sampai Agustus. Kalau puncaknya antara bulan Juli sampai Agustus,” terang Marjono.
Efek Sengatan dan Imbauan SAR
Meskipun terlihat menarik, sengatan impes tidak bisa diremehkan. Efek yang ditimbulkan bisa berupa gatal-gatal mendadak hingga rasa panas menyengat pada bagian kulit yang bersentuhan langsung. Pada kasus yang lebih parah atau korban yang memiliki sensitivitas tinggi, sengatan ubur-ubur ini bahkan bisa memicu sesak napas hingga pingsan.
Sebagai langkah antisipasi, Tim SAR terus bersiaga dengan melakukan patroli rutin di sepanjang garis pantai untuk menyisir dan membersihkan ubur-ubur yang terdampar. Imbauan secara langsung maupun melalui pengeras suara juga terus digencarkan agar wisatawan tetap waspada.
“Karena itu, kami minta kepada wisatawan agar selalu hati-hati, dan jangan memegang atau menjadikan mainan biota laut biru menggelembung di pinggir pantai. Jika ada yang terkena sengatan, bisa segera ke pos SAR untuk mendapatkan pertolongan,” pungkas Marjono.
=== Artikel ini sudah tayang di Detik Jogja ===











