GUNUNGKIDUL — Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, memberikan arahan strategis dalam agenda pembinaan pegawai RSUD Saptosari pada Rabu (12/8/2026). Agenda tersebut dihadiri oleh jajaran direksi, dewan pengawas, serta seluruh karyawan rumah sakit guna memantapkan komitmen peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Direktur RSUD Saptosari, dr. Damayanti Mustikarini, memaparkan capaian positif rumah sakit hingga pertengahan 2026. Salah satu efisiensi yang menonjol adalah pemangkasan waktu tunggu pelayanan ortopedi secara signifikan, dari yang semula mencapai 5 jam 48 menit pada 2025 kini berhasil ditekan menjadi hanya 1 jam 25 menit pada 2026.
Selain itu, RSUD Saptosari tengah menyiapkan fasilitas layanan Hemodialisa (HD) kapasitas 16 tempat tidur untuk merespons kebutuhan cuci darah warga. Berdasarkan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM), RSUD Saptosari meraih nilai 85,15 (Kategori Baik) dengan nilai tertinggi pada aspek integritas dan keramahan perilaku petugas.
Soroti Keterisian Tempat Tidur dan Efisiensi Klaim BPJS
Kendati mengapresiasi berbagai inovasi, Bupati Endah memberikan beberapa catatan evaluasi kritis. Salah satunya adalah angka keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) yang masih tertahan di angka 27–28%, jauh di bawah ambang batas ideal nasional yakni 60–85%. Bupati menginstruksikan manajemen untuk merestrukturisasi distribusi tempat tidur dan menguatkan lini layanan unggulan.
Bupati juga menyoroti tingginya angka pending claim BPJS Kesehatan rawat inap yang berkisar antara 15–23% karena berpotensi mengganggu arus kas (cash flow) operasional rumah sakit.
“Butuh ketelitian dan semangat melayani. Perkuat verifikasi internal sebelum pengajuan klaim agar tidak terjadi pending yang tinggi,” tegas Bupati Endah.
Tambahkan 11 Dokter Spesialis dan Wajibkan Dashboard Real-Time
Guna memperkuat kapasitas SDM, Bupati mengumumkan penambahan 11 dokter spesialis baru yang dijadwalkan mulai bertugas di RSUD Saptosari pada 24 Agustus mendatang. Pemkab Gunungkidul juga siap memberikan rekomendasi beasiswa pendidikan spesialis/subspesialis bagi dokter daerah.
Di samping itu, Bupati mewajibkan manajemen RSUD Saptosari menerapkan dashboard manajemen berbasis data real-time guna memantau indikator mutu, arus pasien, hingga kondisi keuangan secara akurat.
“Semua keputusan harus berbasis data, bukan sekadar asumsi atau perkiraan, agar lebih presisi. Masyarakat akan selalu mengingat bagaimana mereka diperlakukan. Mari hadir dengan kompetensi, bekerja dengan produktivitas, dan melayani dengan kualitas,” pungkas Bupati.











