KIDUL.ID – Ketegangan antara Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dan FIFA mencapai titik puncak. Meskipun Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara resmi membatalkan rencana komersialisasi FIFA Forward Enterprise (FFE) yang sangat kontroversial, UEFA menyatakan telah sepenuhnya kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan pria berkebangsaan Swis-Italia tersebut.
Langkah FIFA yang berniat menjual saham minoritas komersial ajang bergengsi—termasuk Hak Siar dan Sponsor Piala Dunia—kepada entitas swasta menuai penolakan masif global. Gelombang perlawanan yang dipimpin UEFA, serta didukung ancaman boikot dari 55 asosiasi negara anggotanya, akhirnya memaksa FIFA membatalkan proposal bernilai miliaran poundsterling tersebut pada Sabtu (1/8/2026).
Melalui siaran pers resminya, UEFA tidak menyembunyikan kekecewaan mendalam atas manuver kepemimpinan FIFA yang dinilai bergerak secara tertutup dan tidak transparan.
“UEFA menyambut baik keputusan FIFA untuk menarik rencananya menjual sebagian saham kompetisi-kompetisinya—termasuk Piala Dunia—ke pihak swasta. Usulan tersebut ditolak secara bulat oleh asosiasi nasional UEFA dan oleh banyak federasi serta konfederasi lain dari berbagai ukuran di seluruh dunia, yang tugas utamanya adalah melindungi integritas sepak bola,” tulis UEFA dalam pernyataan resminya.
Kecam Kesepakatan Rahasia dan Tuntut Evaluasi Total
UEFA juga melayangkan kritik tajam terhadap metode tata kelola di era Infantino yang dinilai mengabaikan prinsip-prinsip keterbukaan demi mengejar keuntungan komersial instan.
“Kita tidak bisa terus seperti ini dengan skema rahasia dalam jangka waktu singkat yang dirancang oleh individu-individu tanpa identitas, yang manfaatnya bagi permainan ini sangat diragukan. Kita harus mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab dan menuntut pertanggungjawaban mereka,” lanjut pernyataan tegas tersebut.
Organisasi tertinggi sepak bola Eropa itu juga mengonfirmasi akan segera menggalang konsolidasi dengan federasi-federasi anggota serta konfederasi sepak bola benua lain untuk melakukan tinjauan mendasar terhadap struktur kepemimpinan FIFA saat ini.
“Tinjauan itu harus menyeluruh dan mendasar. Tidak ada opsi yang boleh dikesampingkan. Kepemimpinan FIFA saat ini tidak hanya telah kehilangan kepercayaan UEFA, tetapi juga banyak anggota keluarga besar sepak bola internasional,” tutup UEFA.
Krisis kepercayaan ini menandai salah satu gejolak politik terbesar dalam sejarah tata kelola sepak bola modern, yang diprediksi akan berbuntut panjang pada pembahasan reformasi kepemimpinan FIFA ke depan.











