KIDUL.ID – Lagu “Laut Kidul” yang dibawakan oleh Denny Caknan bersama Hendra Kumbara ini sukses menyentuh hati banyak penikmat musik Tanah Air. Membawa nuansa melankolis yang kental, lagu berbahasa Jawa ini mengisahkan tentang rasa rindu, patah hati, dan janji sehidup semati yang pada akhirnya diingkari.
Berlatarkan pesisir pantai selatan yang menjadi saksi bisu sebuah kenangan, setiap bait liriknya mampu membawa pendengar ikut merasakan kepedihan karena ditinggalkan. Bagi Anda yang ingin mendalami pesan emosional dari lagu ini, berikut adalah lirik lengkap “Laut Kidul” beserta terjemahan bahasa Indonesia per baris untuk memudahkan Anda meresapi maknanya.
Terpantau per tanggal 9 Juli 2026, video musik lagu “Laut Kidul” masih trending video di YouTube dan ditonton hingga 6,1 juta kali. Berikut ini lirik lagu Laut Kidul disertai terjemahan agar para pendengar bisa menikmati lagi dan mengerti maknanya. Sebagai media di Gunung Kidul, redaksi melihat lagu ini juga bagian tak terpisahkan dalam mengangkat budaya dan nilai-nilai luhur wilayah selatan.
Lirik Lagu “Laut Kidul” dan Terjemahannya
Suoro ombak segoro laut kidul
(Suara ombak lautan laut selatan)
Ileng seng biyen tak rangkul
(Teringat yang dulu aku peluk)
Ngucapke janji
(Mengucapkan janji)
Urip tekane pati
(Sehidup semati)
Tapi mesti mbok blenjani
(Tetapi kamu ingkari)
Mbarengi mudun srengenge aku lungguh dewe
(Bersama turunnya sang fajar, aku duduk sendiri)
Mbayangke sliramu seng neng kene
(Membayangkan dirimu di sini)
Seksine pasir seng kasar
(Pasir kasar menjadi saksi)
Mbiyen nantang berlayar
(Dulu menantang berlayar)
Sakniki mboten wonten kabar
(Sekarang tidak ada kabar)
Banyune pasang
(Airnya pasang)
Ngantem banter watu karang
(Menghempas batu karang)
Ngancani aku ngerakit kenangan
(Menemaniku merakit kenangan)
Aku ngakoni
(Aku mengakui)
Sak wise mbok tinggal wingi
(Setelah kau tinggalkan)
Dunyoku rasane sepi
(Duniaku terasa hampa)
Ngelamunku mikir
(Melamunku mikir)
Lungguhku neng pinggir pesisir
(Duduk di pinggir pesisir)
Seng mbiyen dadi sandaran terkahir
(Yang dulu jadi sandaran terakhir)
Yen ono wektu
(Jika ada waktu)
Sedelo pengen ketemu
(Ingin bertemu sebentar)
Kangen aku
(Aku rindu)
Suoro ombak segoro laut kidul
(Suara ombak lautan laut selatan)
Ileng seng biyen tak rangkul
(Teringat yang dulu aku peluk)











