Widget Iklan Affiliate (6 Produk)
Pertanian

Wabup Gunungkidul Dorong Petani Beralih ke Pertanian Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi

nuun.std
×

Wabup Gunungkidul Dorong Petani Beralih ke Pertanian Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi

Sebarkan artikel ini
Wabup Gunungkidul Dorong Petani Beralih ke Pertanian Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi
Petani Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, DIY, sudah menggunakan alat modern dalam memanen padi. (Foto ANTARA/Mamiek)

KIDUL.ID – GUNUNGKIDUL — Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, mendorong para petani di wilayahnya untuk mempercepat transformasi dari sistem pertanian konvensional menuju sistem pertanian ramah lingkungan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Langkah ini dinilai strategis untuk mendongkrak produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan sektor pangan dalam menghadapi tantangan zaman.

Joko Parwoto, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Gunungkidul, menegaskan bahwa perubahan pola pikir (mindset) para petani menjadi kunci utama dalam transisi ini.

Widget Iklan Affiliate (4 Produk)

“Tantangan sektor pertanian saat ini menuntut perubahan pola pikir dari sistem pertanian konvensional menuju pertanian modern yang memanfaatkan inovasi dan teknologi,” ujar Joko di Gunungkidul.

Menurutnya, salah satu langkah konkret pertanian ramah lingkungan yang mendesak untuk diterapkan adalah pemanfaatan pestisida hayati dan pupuk organik. Inovasi ini tidak hanya berfungsi menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang, tetapi juga mampu mendongkrak kualitas hasil panen secara signifikan.

“Inovasi itu juga menjadi cara efektif untuk menghadapi dampak perubahan iklim global serta ketidakstabilan harga komoditas pertanian di pasar,” tambahnya.

Lima Gerakan Utama Optimalisasi Pertanian

Joko optimistis Gunungkidul mampu memimpin transformasi ini karena memiliki modal sosial dan alam yang kuat, mulai dari ketersediaan lahan yang luas, karakter petani yang tangguh, hingga semangat gotong royong yang masih mengakar. Guna mewujudkan hal tersebut, ia memaparkan lima gerakan utama yang harus dijalankan:

  1. Peningkatan Produksi Pangan: Melalui pemanfaatan benih unggul dan mekanisasi alat pertanian modern.
  2. Gerakan Petani Naik Kelas: Mendorong petani memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) serta melek teknologi digital.
  3. Hilirisasi Pertanian: Mengolah hasil panen mentah menjadi produk turunan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi.
  4. Regenerasi Petani: Mengajak dan memfasilitasi generasi muda agar tertarik terjun ke sektor pertanian modern.
  5. Kolaborasi Lintas Sektor: Membangun jejaring kerja sama yang erat antara kementerian, perguruan tinggi, hingga dunia usaha.

Implementasi Nyata di Ponjong

Penerapan dari lima gerakan tersebut salah satunya telah diimplementasikan melalui pelatihan khusus bagi anggota Kelompok Tani Sido Guyub di Padukuhan Gedaren I, Kalurahan Sumbergiri, Kapanewon Ponjong. Pelatihan ini berfokus pada pemanfaatan agens hayati dan pupuk organik secara mandiri.

“Fokus utama pelatihan adalah pemanfaatan agens hayati dan pupuk organik sebagai alternatif pengendalian hama, sekaligus untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia,” urai Joko.

Kelompok Tani Sido Guyub sendiri dikenal sebagai salah satu kelompok tani yang aktif menelurkan inovasi ramah lingkungan. Melalui pendampingan teknis yang konsisten serta bantuan hibah peralatan pendukung, kelompok tani ini kini telah mampu memproduksi agen pengendali hama berbasis hayati secara mandiri untuk kebutuhan lahan mereka.


Catatan Redaksi: Pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan tulisan dapat mengirimkan sanggahan atau koreksi (sesuai Pasal 1 ayat 11 & 12 UU Pers No. 40/1999) melalui email: [email protected].

Text Ads Widget